Media Inspirasiku, Sarana berbagi informasi

Jumat, 03 Maret 2017

SEJARAH VALENTINE DAY

SEJARAH VALENTINE DAY , MAKSIAT BERBUNGKUS KASIH SAYANG

Oleh : Hj. Irena Handono

Meski nasihat-nasihat, imbauan-imbauan para ulama, ustadz-ustadzah tentang Valentine selalu didengungkan tiap bulan Pebruari, tapi ternyata masih banyak orang tua para remaja yang masih berpemahaman salah tentang Valentine’s Day. Valentine hanya dianggap sebagai budaya remaja modern saja. Padahal ada bahaya besar di balik Valentine yang siap menerkam para remaja. Ini yang tidak disadari para orang tua.
Tiap bulan Februari remaja yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau banyak ustad-ustazah memperingatkan nilai-nilai akidah Kristen yang dikandung dalam peringatan tersebut, namun hal itu tidak terlalu dipusingkan mereka. "Aku ngerayain Valentine kan buat fun-fun aja...." begitu kata mereka.
Tanggal 14 Februari dikatakan sebagai ‘Hari Kasih Sayang’. Apa benar? Mari kita tilik sejarahnya.

Siapakah Valentine?
Tidak ada kejelasan, siapakah sesungguhnya yang bernama Valentine. Beragam kisah dan semuanya hanyalah dongeng tentang sosok Valentine ini. Tetapi setidaknya ada tiga dongeng yang umum tentang siapa Valentine.
Pertama, St Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang kematiannya pada 14 Pebruari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270). Eksekusi yang didapatnya ini karena perbuatannya yang menentang ketetapan raja, memimpin gerakan yang menolak wajib militer dan menikahkan pasangan muda-mudi, yang hal tersebut justru dilarang. Karena pada saat itu aturan yang ditetapkan adalah boleh menikah jika sudah mengikuti wajib militer.
Kedua, Valentine seorang pastor di Roma yang berani menentang Raja Claudius II dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia kemudian meninggal karena dibunuh dan oleh gereja dianggap sebagai orang suci.
Ketiga, seorang yang meninggal dan dianggap sebagai martir, terjadi di Afrika di sebuah provinsi Romawi. Meninggal pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Dia juga bernama Valentine.
Ucapan ”Be My Valentine”
Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Tradisi penyembah berhala
Pada masa Yunani dan Romawi, masyarakat pada saat itu beragama pagan yakni menyembah banyak Tuhan atau Paganis-polytheisme. Mereka memiliki perayaan/pesta yang dilakukan pada pertengahan bulan Pebruari yang sudah menjadi tradisi budaya mereka. Dan gereja menyebut mereka sebagai kaum kafir.
Di zaman Athena Kuno, tersebut disebut sebagai bulan GAMELION. Yakni masa menikahnya ZEUS dan HERA. Sedangkan di zaman Romawi Kuno, disebut hari raya LUPERCALIA sebagai peringatan terhadap Dewa LUPERCUS, dewa kesuburan yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba.
Perayaan ini berlangsung dari 13 hingga 18 Pebruari, yang berpuncak pada tanggal 15. Dua hari pertama (13-14 Februari) dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) Juno Februata. Di masa ini ada kebiasaan yang digandrungi yang disebut sebagai Love Lottery/Lotre pasangan, di mana para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah bejana kemudian para pria mengambil satu nama dalam bejana tersebut yang kemudian menjadi kekasihnya selama festival berlangsung.

Seiring dengan invasi tentara Roma, tradisi ini menyebar dengan cepat ke hampir seluruh Eropa.
Ritual pagan ini diubah pada tahun 469 M  menjadi Saint Valentine's Day. Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari tradisi masyarakat di zaman Romawi Kuno, masyarakat kafir yang menyembah banyak 

Tuhan juga berhala.

Valentine di Indonesia
Valentine’s Day disebut ‘Hari Kasih Sayang’, disimbolkan dengan kata ‘LOVE’. Padahal kalau kita mau jeli, kata ‘kasih sayang’ dalam bahasa inggris bukan ‘love’ tetapi ‘Affection’. Tapi mengapa di negeri-negeri muslim seperti Indonesia dan Malaysia, menggunakan istilah Hari Kasih Sayang. Ini penyesatan.
Makna ‘love’ sesungguhnya adalah sebagaimana sejarah GAMELION dan LUPERCALIA pada masa masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks/perkawinan. Jadi Valentine’s Day memang tidak memperingati kasih sayang tapi memperingati love/cinta dalam arti seks. Atau dengan bahasa lain, Valentine’s Day adalah HARI 
SEKS BEBAS.

Dan pada kenyataannya tradisi seks bebas inilah yang berkembang saat ini di Indonesia. Padahal di Eropa sendiri tradisi ini mulai ditinggalkan. Maka, semua ini adalah upaya pendangkalan akidah generasi muda Islam. (Sumb. Grup share kebaikan)
Share:

Kematian Itu Pasti Engkau Dapati

Oleh: Ustadz Najmi Umar Bakkar 

Wahai Saudaraku...

Kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati...?
Di waktu kapankah kita akan mati...?
Dengan cara apakah kita akan mengakhiri dunia ini...?
Lalu masihkah kita merasa aman dari intaian kematian...?

Siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa menghirup segarnya udara pagi esok hari...?
Siapa yang bisa menjamin kita bisa tertawa setelah ini...?

Atau...siapa tahu giliran kematianmu sebentar lagi...
Di manakah saudara kita yang telah mati saat ini...?
Yang beberapa waktu silam masih sempat tertawa dan bercanda bersama kita...?

Saat ini mereka sendiri di tengah gelapnya himpitan kubur...
Berbahagialah mereka yang mati dengan membawa amal shalih...
Dan sungguh celaka mereka yang mati dengan membawa dosa dan kemaksiatan...

Wahai Saudaraku...
Ketahuilah...
Harta itu belum tentu engkau dapatkan...
Sedangkan kematian itu pasti engkau dapati...
Maka bersungguh-sungguhlah dalam perkara yang pasti engkau dapati...
Dibandingkan dengan perkara yang belum tentu engkau dapatkan...
Rabbmu tidak menciptakan dua hati dalam satu tubuh..
Jika hati lebih condong kepada dunia...
Niscaya ia akan lalai dari akhirat...

Maka perhatikanlah hatimu...
Ia berjuang untuk akhirat...
Atau justru mengkhianatimu menuju laknat...
Jika sekiranya engkau kaya, maka bukan berarti Rabbmu mencintaimu...
Jika sekiranya engkau miskin, maka bukan berarti Rabbmu menghinakanmu...
Kaya dan miskin bukan ukuran kasih sayang Rabbmu, tetapi keduanya hakekatnya adalah ujian bagimu...

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : "Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya" Nikmat terbaik adalah segala kejadian yang membawamu semakin dekat kepada Allah 'Azza wa Jalla, betapa pun itu menyakitkanmu...

Ketahuilah...
Siksa terberat di dunia adalah tidak merasanya engkau sedang di adzab dengan adzab apapun...
Itu adalah pertanda bahwa hatimu sudah mengeras...
Tidak merasakan perbedaan antara adzab dengan yang bukan adzab...
Terlebih jika engkau bangga dengan mendapat adzab...
Engkau bangga menggunakan harta yang haram...
Bangga dengan kemaksiatan...
Merasa gagah dengan kedurhakaan...
Bangga dengan gaya hidup kemunafikan...

Padahal itu semua adalah bagian dari adzab... "Maka celakalah orang-orang yang hatinya telah membatu dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam kesesatan yang amat nyata" (QS. Az-Zumar [39]: 22)

 "Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan pengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat). MENGAPA KAMU TIDAK MENGAMBIL PELAJARAN ?" (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23)

Maka lembutkanlah hatimu wahai saudaraku...
Bacalah kitab Rabbmu...
Hadirilah majelis ilmu...
Dan tangisilah dirimu dengan dzikir dalam kesendirianmu...

Kemudian...
Perbanyaklah mengingat kematian...
Seorang hamba yang banyak mengingat mati, maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian...

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu" (QS. Ali Imran [3]: 185)

 اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
 "Ya Allah, akhirilah hidup kami dalam Islam, akhirilah hidup kami dalam keimanan dan akhirilah hidup kami dengan akhir yang baik (husnul khatimah)". (sumb. Grup Share Kebaikan)
Share:

Jumat, 26 Agustus 2016

HUKUM MEMBERI HORMAT KEPADA BENDERA

HUKUM MEMBERI HORMAT KEPADA BENDERA
(Ditulis Oleh: Zulfahani Hasyim, Lulusan Al Azhar, Cairo)

Karena banyaknya sahabat yang bertanya soal penghormatan kepada bendera. Maka akan saya jawab dengan ilmu kalam yang pernah saya pelajari di Al-Azhar.

Menghormat berbeda dengan menyembah. Menghormat adalah memberikan penghormatan atas jasa yang diberi hormat kepada yang memberi hormat. Memberi hormat sama dengan berterimakasih.

Dalam Tauhid Islam kita boleh berterimakasih kepada makhluk. Yang tidak boleh adalah memuja makhluk. Karena pujaan tidak didasarkan atas jasa yang dipuja. Menyembah adalah menghambakan diri dan memuja kepada yang disembah tanpa harus ada jasa yang disembah kepada yang menyembah dan yang memuja. Menghormat bendera adalah bentuk penghormatan kita kepada jasa para pahlawan yang diwakili oleh bendera yang mereka perjuangkan. Menyembah Allah adalah penghambaan dan pemujaan kita kepada Allah meski pun Allah tidak melakukan apapun untuk kita, atau bahkan jika Allah memberi kita madharat kepada kita, kita tetap harus menyembah dan memuja Allah. Dalam menyembah dan memuja kita tidak boleh memberikan sembah dan puja kepada selain Allah. Dalam menghormati dan berterimakasih kita boleh menghormati dan berterimakasih kepada siapapun baik Allah atau makhluknya.

Demikian patokan Tauhid yang disampaikan oleh para ahli dan ulama Tauhid dan Kalam dalam Islam. Wallahu a'alam bish showab.
Share:

Kamis, 25 Agustus 2016

Apakah Benar Rasulullah SAW Buta Huruf?

Apakah Benar Rasulullah SAW Buta Huruf?


Ditulis Oleh: Zulfahani Hasyim, Lulusan Al Azhar, Cairo

Seorang santri bertanya kepada saya menyoal Nabi Muhammad SAW yang dikabarkan dalam sejarah sebagai seorang ummiy atau buta huruf. Pertanyaannya apakah benar Rasulullah SAW itu buta huruf? Bukankah salah satu sifat beliau ada fathonah yang artinya cerdas? Bagaimana mungkin seorang manusia mulia di bumi dan di langit itu buta huruf? Bagaimana mungkin Nabi bisa berdagang sampai ke Syam sementara beliau buta huruf? Bagaimana mungkin Nabi SAW yang keturunan keluarga terhormat itu buta huruf? Apakah keluarganya yang terhormat itu tidak memberikan pendidikan kepadanya?

Jawaban saya, berdasarkan pada apa yang saya pelajari dari ulama-ulama dan masyayikh Al-Azhar:

Betul, Nabi Muhammad SAW itu buta huruf. Keadaan Nabi SAW yang buta huruf itu tidak berpengaruh pada sifatnya yang fathonah atau cerdas itu. Karena kecerdasan yang dibutuhkan seorang Nabi dan Rasul itu bukan kecerdasan dalam standar kita yang manusia biasa, yang mana diukur melalui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kecerdasan yang dibutuhkan seorang Nabi dan Rasul itu jauh lebih tinggi dari standar kecerdasan manusia biasa yang hanya diukur dari kemampuan membaca dan berhitung. Seorang Nabi dan Rasul harus melampaui itu semua, di mana kecerdasan mereka diukur dari kemampuan mereka membaca situasi masyarakatnya, kemampuan mereka memimpin masyarakat dan umatnya, kemampuan mengaitkan antara kejadian nyata (al-waqi') dengan ajaran yang turun kepadanya (wahyu), kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siapa saja, dan kemampuan memahami "bahasa" Tuhan. Kecerdasaan seperti ini justru jauh lebih tinggi levelnya dibanding kecerdasan mampu membaca dan berhitung. Dan standarnya ini nyatanya dipakai pula oleh para ahli psikologi modern.

Kemulian seorang manusia tidak juga diukur dengan kemampuan membaca dan menulis. Nyatanya banyak orang bisa membaca dan menulis namun mereka berakhlak tidak mulia, dengan korupsi, mencuri, berzina, dan meminum khomer. Standar kemuliaan ada pada akhlak. Semakin baik akhlak seseorang semakin mulia dia, lantas adakah manusia yang akhlaknya lebih baik dari Rasulullah SAW? Dan Allah SWT di dalam Al-Qur'an sudah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang memiliki akhlak yang mulia.

Hari ini kita bisa membuktikan bahwa mereka yang buta huruf dan tidak bisa membaca-menulis tetap bisa bertransaksi jual-beli sederhana dengan orang lain. Karena faktanya kemampuan membilang jumlah sesuatu dan melakukan operasi matematika sederhana tidak ada kaitannya dengan kemampuan mengenal huruf. Lagi pula Rasulullah SAW dalam berdagang tidak lah sendirian, Tidak ada sejarah yang menyebutkan Rasulullah SAW berdagang sendirian.

Pendidikan pada masa Rasulullah sekitar abad ke-6 Masehi di jazirah Arab khususnya tidak terfokus hanya pada kemampuan membaca dan menulis seperti hari ini. Namun saat itu pendidikan anak lebih difokuskan kepada akhlak, sopan-santun, kejujuran, kepandaian bergaul, kepemimpinan, dan berbagai hal yang menyangkut sosial kemasyarakatan. Tidak seperti zaman kita sekarang di mana pendidikan dan standarnya diukur dengan standar kemampuan baca-tulis berhitung. Ini artinya Rasulullah SAW tetap mendapatkan pedidikan dari keluarganya terbukti beliau dikirim ke perkampungan Badui agar mendapatkan pendidikan akhlak yang lebih lembut, terpuji, dan jujur, di mana saat itu mulai susah didapatkan di kota-kota seperti Makkah dan kota besar lainnya.

Selain itu definisi kaum terdidik pada masa itu tidak sama dengan masa kita sekarang dimana kaum terdidik adalah yang mengenyam sekolah dan mampu membaca dan menulis. Akan tetapi definisi kaum terdidik lebih diartikan orang-orang yang memiliki adab yang baik dalam bermasyarakat. Lagi pula memang ini yang dibutuhkan oleh Nabi dan Rasul.

Kondisi Rasulullah SAW yang buta huruf juga memiliki hikmah dan faidah yang memang sengaja disuratkan Allah SWT kepada Baginda Nabi SAW. Di antara faidah dan hikmah tersebut adalah:

1. Nabi SAW digariskan untuk menjadi buta huruf demi menyangkal anggapan kaum penentang Al-Qur'an yang menganggap bahwa Al-Qur'an ada kitab buatan Rasulullah SAW. Dengan keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf otomatis anggapan mereka terbantahkan, karena bagaimana mungkin seorang yang buta huruf bisa mengarang kitab seindah dan sehebat Al-Qur'an?

2. Keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf membantah anggapan bahwa Nabi Muhammad dan Al-Qur'an mendapatkan pengaruh kebudayaan dan peradaban dari masyakat Arab dan sekitarnya. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW belajar kebudayaan dan peradaban umat-umat di sekitar Arab jika beliau buta huruf?

3. Keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf menegaskan kepada kita bahwa pendidikan Rasulullah SAW murni berasal dari pendidikan ilahiyah Allah SWT, dan tidak ada campur tangan pendidikan manusia di sekitarnya.

4. Dengan keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf menjadi bukti kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat Rasulullah SAW, dan masih otentik berasal dari Allah SWT.

5. Kondisi Nabi Muhammad SAW yang buta huruf menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada seluruh umat manusia baik yang bisa membaca atau tidak, semuanya mendapatkan perintah dan larangan yang sama dari Al-Qur'an tanpa memandang apakah dia bisa membaca atau tidak.

6. Kondisi Nabi Muhammad SAW yang buta huruf menunjukkan kepada kita betapa mudahnya Al-Qur'an untuk dipelajari dan dipahami bahkan oleh orang yang buta huruf sekali pun.

Catatan:
Nabi Muhammad SAW hanya buta aksara, di mana tidak mengenal dan membaca aksara saja, tapi tidak buta bahasa. Di mana Rasulullah SAW sangat fasih dan paham Bahasa Arab sampai ke makna-maknanya yang detail. Hal ini bukan diperoleh dari sekolah namun diperoleh dari pengajaran ilahiyah Allah SWT.

Buta huruf itu tidak mesti berarti buta bahasa. Makanya saya memilih kata buta aksara atau buta huruf karena yang tidak diketahui oleh Rasulullah hanya aksara arabnyanya saja sebagai simbol bunyi-bunyi dalam bahasa Arab. Tapi Rasulullah sangat mahir berbahasa Arab melebihi orang Arab mana pun.

Anggapan bahwa Rasullullah SAW itu tidak ummi justru datang dari kaum anti-Al-Qur'an yang ingin menyerang keaslian Al-Qur'an.

Wallahu a'lam bish shawab
Share:

Senin, 22 Agustus 2016

BLH Kepri Adakan Uji Emisi di Tumenggung Abdul Jamal

Batam, ISR - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Kepri uji emisi setiap kendaraan roda empat di Tumenggung Abdul Jamal Mukakuning, Batam.

Ratusan kendaraan roda empat harus berbelok arah saat melintasi Tumenggung Abdul Jamal pada Selasa, 23 Agustus 2016 pagi tadi.

Setiap kendaraan diperiksa dengan uji emisi. Bagi kendaraan yang lulus, diberikan kartu lulus uji dan satu buah topi bertuliskan Kepri dan Badan Lingkungan Hidup.

Herlanga (32), yang turut serta terjaring razia uji emisi mengatakan, dirinya sempat terkejut melihat banyak mobil roda empat ditahan polisi dan Dishub kota Batam.

 "Saya kaget awalnya banyak mobil ditahan, setelah diperiksa ternyata uji emisi. Syukurlah mobil picup saya juga lulus", kata Herlangga. (awal)
Share:

Relawan Zakat

kunjungi www.bmh.or.id
Copyright © AwalMedis | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com